PENCABULAN SISWA MOMENTUM PEMBANGUNAN BUDAYA SEKOLAH BERBASIS KARAKTER TERPUJI

Oleh: Abdur Rohim, SHI.

(guru dan pendidik)

Pemberitaan akhir-akhir ini sangat mengusik rasa kemanusiaan, bagaimana tidak, di lingkungan pendidikan yang seharusnya dapat membentuk jiwa anak untuk menghadapi masa depannya justru menjadi tempat pertama anak merasakan kepahitan hidup karena telah dicabuli oleh guru dan kepala sekolahnya sendiri sebagaimana diberitakan JPNN pada 22 April 2013, di lingkup SD pun, beberapa siswi yang masih polos harus menahan tangis dan takut atas pencabulan yang dilakukan oleh guru prianya. Peristiwa kriminal sekaligus memilukan yang telah mencoreng wajah pendidikan di republik ini. Tak pelak, jiwa siswa menjadi trauma, paranoid dan gangguan belajar hampir bisa dipastikan akan terjadi. Opini publik langsung bertanya-tanya kemanakah pembelajaran berbasis karakter yang telah digaungkan oleh kementerian pendidikan itu menguap?. Mengapa dunia pendidikan kita sangat sulit mengukir prestasi dan sekarang justru dikabarkan dengan hal aib semacam ini? Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita refleksikan bersama.

Normativitas pembelajaran berbasis karakter

Saat KTSP diberlakukan pada 2006 masyarakat berharap banyak pada basis pembelajaran terbaru yang mengutamakan pada pembangunan karakter (character building) peserta didik. Bukannya hal positif yang dibicarakan yang muncul malah berita tentang pencabulan siswa di berbagai lembaga pendidikan. Pembelajaran berbasis karakter telah gagal diaplikasikan dalam aspek praksis pendidikan. Pembelajaran berkarakter hanya sekedar hafalan yang wajib diingat serta sekedar menghiasi  perencanaan pembelajaran  (RPP) dengan cukup diembel-embeli menjadi RPP berkarakter. Formalitas yang miskin substansi. Satu bentuk aplikasi pembelajaran berbasis karakter yang sedang ramai dibicarakan di tataran dunia pendidikan internasional sekarang ini ialah pendidikan asertif (assertive education) yang akan dijelaskan di bagian akhir dari tulisan ini.

Buta hukum (law blindness)

Fenomena pendidik mencabuli siswanya timbul sebagai rangkaian kausalitas yang berangkat dari rendahnya tingkat melek hukum  (law literacy) di kalangan pendidik. Alergi publik khususnya pendidik terhadap hukum dan undang-undang mencapai klimaks saat maraknya pemberitaan krisis dunia hukum yang telah terjun bebas lebih dulu dibandingkan “saudara tua” nya dunia pendidikan. Seyogyanya kita bisa membedakan bahwa dalam dunia hukum ada hukum secara praksis dan hukum secara keilmuan. Hukum secara praksis memang telah sampai pada titik nadirnya namun hukum secara keilmuan wajib kita pelajari karena negara kita berdasar hukum (rechstaat). Terdapat idiom hukum yang telah menjadi dogma  bahwa semua orang (siapapun ia) dianggap tahu tentang hukum dan undang-undang yang berlaku sehingga ia tidak dapat mengelak bahwa ia tidak tahu kalau satu perbuatan dianggap salah (guilty) oleh hukum. Fenomena kejahatan dan pelanggaran hukum yang dilakukan di kalangan pendidik menunjukkan buruknya tingkat melek hukum di kalangan pendidik. Pendidik yang mencabuli anak didiknya jelas tidak membaca (atau kalau boleh dikatakan tidak mau tahu) bahwa sejak 2002 telah diundangkan UU no.23 Tahun 2002 Tentang Perllindungan Anak yang menjerat pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) bagi setiap orang (termasuk pendidiknya) yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. Andaikan mereka membaca undang-undang ini mereka pasti akan berfikir ribuan kali sebelum melakukan aksi bejatnya, merefleksikan bahwa hal kedua yang perlu dibangun di sekolah ialah budaya melek hukum (law literacy).

Pendidikan asertif

Siswa dalam kehidupan polosnya, sering tidak menyadari bahwa perkembangan fisiknya senantiasa diperhatikan oleh orang lain, entah itu orangtua, teman sebaya, keluarga dekat, maupun gurunya. Sehingga tak jarang perhatian itu berubah menjadi sebuah perbuatan asusila yang merugikan siswa itu sendiri. Penjagaan pun menjadi hal yang percuma karena siswa dalam dinamika kehidupannya mustahil akan bisa terproteksi 24 jam. Semata-mata dipasrahkan kepada sekolah pun adalah hal yang naif mengingat sekolah juga memiliki tantangan pada dimensi yang berbeda yang tak kalah beratnya (tuntutan kualitas output lulusan, berkompetisi pada ajang kompetisi sekolah di beberapa tingkatan, sulitnya merubah mindset beberapa pendidik yang konservatif dan tidak mau berubah menjadi lebih baik). Hal yang dirasa masuk akal kemudian ialah menanamkan semangat asertif. Pendidikan asertif adalah mendidik siswa untuk berani mengatakan tidak saat mereka menghadapi kondisi dan situasi yang mengarah pada pencabulan, pelecehan seksual dan perbuatan asusila terhadap anggota tubuhnya, yang perbuatan tidak senonoh itu bisa dilakukan oleh siapapun, apakah itu bapak, keluarga dekat (paman), teman, pacar, dan siapapun yang berniat mesum terhadap tubuh fisik siswa. Sebuah upaya perlindungan diri (self defense) bisa menjadi jalan keluar terhadap minimnya proteksi kepada siswa secara individu. Guru maupun orang tua perlu bahkan wajib menyampaikan sikap asertif ini agar sang anak tidak menjadi korban dalam perbuatan amoral yang akhir-akhir ini didukung dengan maraknya penyebaran video atau tontonan mesum semakin massif terjadi. Sang guru pun selayaknya memiliki sebuah persepsi, pentingnya melatih siswa memiliki sikap asertif ini didasari oleh mindset bahwa siswa tak ubahnya seperti anaknya sendiri. Siswaku adalah anakku. Memang bukan anak biologis namun mereka adalah anak didik kita, yang dipercayakan kepada kita. Yang profesi kita menjadi percuma tanpa keberadaan mereka. Jika mindset ini tertanam di benak para guru, pendidikan asertif akan efektif dan semoga tidak lagi terdengar berita memilukan, pendidik yang mencabuli anak didiknya

Posted on Juni 4, 2013, in ARTIKEL GURU. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: